Dahlan Iskan (2): Terobosan Sang Raja Media

dahlan iskan kerja nyata

Sebelas tahun berlalu. Sejak akuisisi tahun 1971, Eric Samola kini berkunjung lagi ke kantor Dahlan di Surabaya, tahun 1982. Seperti biasa, Dahlan masih menjadi supir langganannya untuk mengantar ke mana pun Eric Samola mau.

Kali ini, tujuannya ke Kembang Jepun. Ke sebuah gedung kuno peninggalan Belanda tahun 1980. Di gedung inilah markas Jawa Pos berdiri, yang sudah mulai terbit sejak Juli 1949. Pemiliknya pasangan suami-istri, The Chung Shen alias Soeseno Tedjo dan Mega Endah. Pada masa kejayaannya, pasangan yang memiliki dua anak kuliah di Inggris ini pernah memiliki tiga koran berbahasa berbeda. Java Post berbahasa Indonesia, Hwa Chiao Sien Wen berbahasa China, dan de Vrije Pers berbahasa Belanda. Tapi, yang tersisa sekarang hanyalah Jawa Pos, yang sudah berkali-kali berganti nama dari Java Post, Djawa Post, Djawa Pos, dan kemudian Jawa Pos.

Kedatangan Eric Samola dan Dahlan waktu itu adalah negosiasi pertama untuk mengakuisisi Jawa Pos. Beberapa waktu kemudian, negosiasi terus dilancarkan Eric Samola. Hingga negosiasi terakhir dilancarkan oleh petinggi Tempo yang lain, Fikri Jufri dan Harjoko Trisnadi, dan tentu saja, Dahlan diikutsertakan dalam negosiasi tersebut. Ketiganya mewakili Eric Samola.

The Chung Shen akhirnya menyetujui akuisisi tersebut. Pertanyaan kemudian menyeruak. Siapa yang akan memimpin Jawa Pos?

Ada tiga nama, yang kesemuanya adalah generasi awal di Tempo yang menjadi kandidat. Bambang Halilintar, jago manajemen. Harun Musawa yang pernah menduduki wakil direktur, dan Harjoko, jago dalam bidang keuangan.

Tetapi, Eric Samola lebih memilih Dahlan. Jawa Pos yang oplahnya hanya enam ribu, harus dibangkitkan oleh tangan dingin seorang pekerja keras sekaligus memiliki kemampuan pemahaman yang baik dalam dunia media. Harus dibangkitkan oleh seseorang yang memiliki kepekaan dalam sense of news value yang selama ini selalu telah dibuktikan Dahlan dengan kebermutuan sajian beritanya.

5 April 1982. Dahlan resmi menjadi pemimpin Jawa Pos. Dan jabatannya bukanlah Pemimpin Redaksi atau pun Direktur, tetapi Ketua Satuan Tugas Pelaksana. Jabatan yang cukup aneh dalam dunia pers. Bahkan hingga saat ini. Sebagaimana kerja adalah nyawa Dahlan, maka unggul dalam berita adalah nyawa Jawa Pos. Ini yang selalu ditekankan oleh Dahlan kepada seluruh kru di Jawa Pos. Sepuluh peraturan ditegakkan Dahlan untuk seluruh kru agar menjadi wartawan yang memiliki keunggulan dan mempunyai daya tulis dan penyajian berita yang jempolan.

Pertama, tokoh. Semua peristiwa menyangkut tokoh layak berita. Kedua, besar. semua berita yang besar layak berita. Ketiga, dekat. Semua peristiwa yang terjadi di dekat Jawa Pos, lebih layak muat daripada berita besar yang terjadi tapi di tempat jauh. Dan bila pun kedua berita itu perlu diberitakan, peristiwa terdekat harus diberitakan lebih lengkap. Keempat, selalu yang pertama. Semua peristiwa yang baru pertama terjadi, layak menjadi berita. Misalkan pencurian dengan modus baru, walau korbannya kecil, layak diberitakan. Kelima, human interest. Peristiwa-peristiwa yang menyentuh perasaan terdasar manusia harus menjadi berita. Keenam, bermisi. Setiap berita harus memiliki misi atau tujuan, entah itu mencerdaskan, mendidik dan memotivasi. Ketujuh, unik. Semua peristiwa yang unik layak menjadi berita. Kedelapan, eksklusif. Berita-berita investigasi adalah contoh berita eksklusif yang tidak dimiliki oleh media lain layak menjadi berita, karena pembaca pasti menyukainya. Kesembilan, tren. Tak peduli apakah itu tren gaya hidup maupun tren perilaku. Dan terakhir, adalah prestasi. Kisah-kisah keberhasilan orang, bahkan orang biasa, penemuan-penemuan, dan lain sebagainya yang menunjukkan prestasi dan anugerah layak diberitakan.

Dahlan menyebut kesepuluh aturan itu sebagai Rukun Iman Berita. Bahkan, bila wartawan Jawa Pos tidak menemukan salah satu rukun tersebut, sebaiknya tidak usah ke kantor saja, karena bisa dipastikan dia tidak akan bisa mengetik berita apa pun.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Dahlan Iskan (1): Kerja Nyata adalah Nyawanya

dahlan iskan kerja nyata

Tangan kiri Khalisnah sedari tadi memegang perutnya sendiri. Tangan kanannya meremas ujung dipan. Dari lisannya menyeruak erangan berpadu takbir dan tasbih yang hampir tanpa jeda. Khosiatun dan Shofwati, dua anak perempuannya bergantian tak tentu ritme, mencoba membantu ibu tercintanya itu menenangkan diri.

Keringat dingin mengalir lancar dari kening Iskan, sang suami. Kepanikan memang sedang menerjangnya, tapi tak boleh lama-lama. Iskan harus segera menemui dukun bayi. Bantuan secepatnya harus segera diarahkan kepada istri tercintanya yang hendak melahirkan itu.

Takeran yang sedang terlanda paceklik panjang memang boleh melumpuhkan perekonomian salah satu desa di Magetan itu. Tapi tak boleh ikut melumpuhkan ayunan langkah cepat Iskan untuk menemui dukun bayi, walau dirinya sendiri sedang menahan lapar akut. Inilah tanggung jawab seorang ayah, harus tetap nampak gagah walau raga terkurung lelah.

Beruntung, sang dukun bayi mudah ditemui, dan bersedia ikut dengannya untuk membantu proses kelahiran kandungan Khalisnah. Kelihaiannya tercipta karena memang terbiasa membantu proses kelahiran seluruh perempuan yang hamil di desa itu. Maka, ketika menghadapi Khalisnah, sang dukun bayi tetap tenang dan tak menampakkan ekspresi kepanikan, tak seperti yang tersirat dari raut muka Khosiatun, Shofwati, apalagi Iskan.

Iskan memang pantas terlanda kerisauan. Kegalauan menerjangnya karena ia ingin ada sosok lelaki yang menemaninya di rumah. Khosiatun sebagai anak pertamanya terlahir perempuan, begitu pula Shofwati. Sudah lama sekali terpanjatkan dalam doanya agar Allah bersedia menganugerahinya anak laki-laki, yang tak hanya bisa ikut membantunya mengerjakan banyak hal sebagai aktivitas penopang keluarga. Bukannya Khosiatun dan Shofwati tak mampu berperan dalam hal itu. Akan tetapi, setiap orang juga tahu, lelaki lebih memiliki keluwesan dalam mengemban tanggung jawab dan dalam kelincahan mencari nafkah. Sudah menjadi fitrah lelaki seperti itu.

Maka, ketika Khalisnah tengah berjuang agar bayinya bisa sehat dan selamat keluar dari dalam perutnya, Iskan tengah bersibuk dengan dzikir dan rapalan doa, agar semua proses berjalan lancar dan keinginan-keinginannya terjawab indah oleh Allah.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Tentang Kebahagiaan dan Passion, Manakah yang Lebih Utama?

Bahagia ataukah sukses, manakah yang lebih penting? Shawn Achor dalam buku The Happiness Advantage membuktikan bahwa kebahagiaan harus datang lebih dahulu, karena itulah syarat menjadi syarat untuk sukses. Ketika kita bahagia, otak menjadi terbuka, kreativitas muncul dan karya terbaik pun lahir. Kebahagiaan menjadi sebab, dasar dan juga fondasi untuk menuju sukses. Jadi, kebahagiaan sama sekali tidak berhubungan dengan jumlah uang. Karena kelemahan uang justru menghilangkan kebersamaan dan gotong-royong. Saat ada uang, lebih suka untuk menyewa bukan bersama-sama membangun. Saat ada uang, lebih suka berpesta sendiri, bukan bersama-sama menikmati sesuatu. Selalu saja begitu.

Passion, mencintai apa yang kita kerjakan.

Passion bukan berarti ambisius. Tapi, karena kecintaan yang terlalu mendalam itulah hingga orang-orang beranggapan bahwa kita terlalu ambisius. Hal ini dapat dimaklumi, karena saat kita mencintai apa yang tengah kita kerjakan, maka kita akan melakukan ini dan itu dengan sangat fokus dan benar-benar mendalam. Dan itu memang terkesan ambisius. Passion sangatlah penting untuk mereguk kesuksesan. Masalahnya hanyalah bagaimana cara kita menemukannya.

Coba kita cermati bagaimana seorang Elli Davis akhirnya menemukan passion-nya. “Aku seorang guru,” katanya, “tapi aku suka membaca tentang iklan real estate, dan aku senang melihat-lihat acara open house di akhir pekan. Aku takut untuk mencoba real estate, tetapi jika aku tidak pernah mencobanya, aku tidak akan pernah tahu sebagus apakah aku di bidang itu.” Lalu, keajaiban itu terjadi. Hanya dengan mencobanya, Elli Davis menemukan jalan yang sesungguhnya menuju passion-nya dan melesat ke puncak profesi bidang real estate. Jalan yang memang seharusnya baginya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!