Mengapa Anda Harus Menulis Memoar

Kali ini, kita akan membahas secara sederhana tentang mengapa Anda harus menulis memoar. Sebagaimana sudah saya terangkan dalam penjelasan di sini, bahwa memoar ditulis dengan maksud untuk menghadirkan cerita tentang tokoh kala berada pada jabatan tertentu atau posisi penting tertentu sehingga layak untuk dikisah-hidupkan dalam bentuk buku.

Kiprahnya yang hanya dalam beberapa tahun tersebut disajikan dalam sebuah buku untuk memberikan keterangan tentang keadaan sebenarnya kepada publik apa saja yang telah dilakukannya, atau untuk memberikan informasi penting yang bisa jadi selama ini bertolak belakang dengan apa yang sudah diberitakan di media. Yah, sebagaimana kita tahu, demi kepentingan rating ataupun trafik, media sering membuat sebuah hal yang sebenarnya menjadi demikian jauh melenceng.

Dalam memoar, akan tersajikan mengenai banyak hal dari karya Anda yang publik belum tahu. Akan tersajikan mengenai banyak kiprah Anda yang publik belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan peran Anda yang sesungguhnya dalam kebaikan. Di sinilah, Anda harus menulis sebuah memoar. Dan bila tak memiliki kesempatan waktu dan skill menulis yang cukup baik, Anda tentu saja bisa memanfaatkan jasa penulisan kisah hidup memoar yang saya berikan. Dengan berada pada industri penerbitan profesional lebh dari lima tahun dan sudah belasan buku yang saya tulis, serta banyaknya buku yang sudah saya bantu kontennya, tentu saja saya tidak menghadirkan layanan yang amatiran.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Mata Rantai Keteladanan

Kisah Ali

Kapankah pengajakan kebaikan tak lagi memerlukan kekata untuk dihadirkan? Jawabnya, saat akhlak seindah pelangi terhadirkan dalam kehidupan. Di sanalah, keteladanan menjadi inspirasi dari orang-orang yang mengenal kita.

Uniknya, saat kita peduli dan berbuat baik kepada siapa saja, saat kita tak lagi hadir di tengah-tengah mereka, kita masih diperbincangkan dan menjadi teladan. Yang terkaget-kaget biasanya adalah orang-orang terdekatnya yang sama-sama mempunyai sifat yang sama. Mereka biasanya didatangi dari orang-orang yang rindu dengan sosoknya yang telah hilang tersebut, seraya menyebut-nyebut rerentet kebaikan yang pernah dihadirkan untuk dirinya. Saat itulah, mereka sama-sama menangis. Bukan karena marah atas ketentuan-Nya yang mengambil sosoknya terlalu dini dari hadapan mereka. Tetapi, mereka rindu, kangen, dan ingin sekali lagi berdekat-dekat dengannya lagi. Nah, di saat itulah, mereka pun mulai berjibaku dengan segala kebaikan, karena ingin dikumpulkan di surga bersamanya, dan juga ingin menjadi sosok penuh keteladanan, agar dapat menjadi inspirasi kebaikan bagi yang lainnya.

Inilah mata rantai keteladanan.

Maka, kita mendapati reriwayat yang tertera dari gerak hidup salafush shalih, senantiasa membuat kita tercengang. Subhanallah, ada begitu banyak inspirasi keteladanan yang terhadirkan.

Kali ini, mari menggalinya dari sosok Ali bin Husain, yang dalam riwayat Abdurrahman bin Hafsh Al-Qurasyi, ia berkata, “Setiap kali Ali bin Husain hendak berwudhu, maka wajahnya berubah kuning pucat. Keluarganya pun bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau memiliki kebiasaan seperti ini?’ Ia menjawab, ‘Tahukah kalian, kepada siapa aku hendak menghadap?’.”

Inspirasi keteladanan yang dihadirkan Ali bin Husain memang patut untuk kita seksamai. Agar kita mengerti, orang-orang semacam ini, memang benar-benar pernah ada terhadirkan di bumi. Mari menyeksamai keteladanan darinya.

Pertama, keteladanan untuk memposisikan diri.

“Bila Ali bin Husain berjalan,” kata Abdullah bin Abi Sulaim, “maka tangannya tidak sampai melewati pahanya dan tidak pernah melambaikan tangannya. Apabila ia hendak melaksanakan shalat, tubuhnya bergetar. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab, ‘Tahukah kalian, di hadapan siapa aku berdiri dan bermunajat?’.”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Mengukuh Langkah Merawat Visi

Takkan lah pernah didapatkah hasil yang berbeda, manakala kita masih menggunakan cara yang sama untuk meraihnya. Kebebasan waktu dan pengendalian penuh atas garis hidupku, menjadi pemicu utama agar aku mengubah strategi alur hidupku yang nyaman, tersergap kerutinan, dan biasa saja. Menjadi air yang mengalir tak pernah menjadi model hidupku. Aku lebih suka meloncat. Lebih suka membuat lompatan hebat. Bagiku, model hidup berasas air mengalir hanya akan membawaku ke tempat yang lebih rendah. Ikut arus memang aman, menenangkan, tak perlu banyak tenaga. Namun pada saat yang sama, juga takkan meraih prestasi apa-apa.

Ada kalanya kelelahan menyapa. Ada juga waktu-waktu di mana kepayahan membabat semangat. Namun aku selalu berhasil menyalakan lagi optimisme. Mempertahankan harapan yang merambat padam agar tetap bersinar terang. Aku terus berjalan walau habis benderang. Aku percaya, Tuhan sedang menatapku mesra, memerhatikan setiap langkah yang aku ambil demi suksesnya impianku di ujung sana. Keyakinan seperti itu, sudah cukup untukku membangkit langkah lagi kala kegelapan meraja seluruh waktuku.

Yah, kita tak akan pernah mendapatkan apapun tanpa peran-Nya. Semua atas dasar karunia, dan juga curahan kasih sayang-Nya. Tanpa meyakini itu, kita hampa. Kita tak punya tempat bersandar. Kita tak punya tempat berpijak di kalan kaki goyah. Tak ada tempat berlindung di kalan hujan ujian membasah langkah. Mungkin terdengar klise, namun percaya akan kekuasaan dan peran Tuhan dalam setiap mimpi-mimpi kita, adalah hal terdasar agar kita mampu memanggil kesuksesan untuk mendekat.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Dahlan Iskan (2): Terobosan Sang Raja Media

dahlan iskan kerja nyata

Sebelas tahun berlalu. Sejak akuisisi tahun 1971, Eric Samola kini berkunjung lagi ke kantor Dahlan di Surabaya, tahun 1982. Seperti biasa, Dahlan masih menjadi supir langganannya untuk mengantar ke mana pun Eric Samola mau.

Kali ini, tujuannya ke Kembang Jepun. Ke sebuah gedung kuno peninggalan Belanda tahun 1980. Di gedung inilah markas Jawa Pos berdiri, yang sudah mulai terbit sejak Juli 1949. Pemiliknya pasangan suami-istri, The Chung Shen alias Soeseno Tedjo dan Mega Endah. Pada masa kejayaannya, pasangan yang memiliki dua anak kuliah di Inggris ini pernah memiliki tiga koran berbahasa berbeda. Java Post berbahasa Indonesia, Hwa Chiao Sien Wen berbahasa China, dan de Vrije Pers berbahasa Belanda. Tapi, yang tersisa sekarang hanyalah Jawa Pos, yang sudah berkali-kali berganti nama dari Java Post, Djawa Post, Djawa Pos, dan kemudian Jawa Pos.

Kedatangan Eric Samola dan Dahlan waktu itu adalah negosiasi pertama untuk mengakuisisi Jawa Pos. Beberapa waktu kemudian, negosiasi terus dilancarkan Eric Samola. Hingga negosiasi terakhir dilancarkan oleh petinggi Tempo yang lain, Fikri Jufri dan Harjoko Trisnadi, dan tentu saja, Dahlan diikutsertakan dalam negosiasi tersebut. Ketiganya mewakili Eric Samola.

The Chung Shen akhirnya menyetujui akuisisi tersebut. Pertanyaan kemudian menyeruak. Siapa yang akan memimpin Jawa Pos?

Ada tiga nama, yang kesemuanya adalah generasi awal di Tempo yang menjadi kandidat. Bambang Halilintar, jago manajemen. Harun Musawa yang pernah menduduki wakil direktur, dan Harjoko, jago dalam bidang keuangan.

Tetapi, Eric Samola lebih memilih Dahlan. Jawa Pos yang oplahnya hanya enam ribu, harus dibangkitkan oleh tangan dingin seorang pekerja keras sekaligus memiliki kemampuan pemahaman yang baik dalam dunia media. Harus dibangkitkan oleh seseorang yang memiliki kepekaan dalam sense of news value yang selama ini selalu telah dibuktikan Dahlan dengan kebermutuan sajian beritanya.

5 April 1982. Dahlan resmi menjadi pemimpin Jawa Pos. Dan jabatannya bukanlah Pemimpin Redaksi atau pun Direktur, tetapi Ketua Satuan Tugas Pelaksana. Jabatan yang cukup aneh dalam dunia pers. Bahkan hingga saat ini. Sebagaimana kerja adalah nyawa Dahlan, maka unggul dalam berita adalah nyawa Jawa Pos. Ini yang selalu ditekankan oleh Dahlan kepada seluruh kru di Jawa Pos. Sepuluh peraturan ditegakkan Dahlan untuk seluruh kru agar menjadi wartawan yang memiliki keunggulan dan mempunyai daya tulis dan penyajian berita yang jempolan.

Pertama, tokoh. Semua peristiwa menyangkut tokoh layak berita. Kedua, besar. semua berita yang besar layak berita. Ketiga, dekat. Semua peristiwa yang terjadi di dekat Jawa Pos, lebih layak muat daripada berita besar yang terjadi tapi di tempat jauh. Dan bila pun kedua berita itu perlu diberitakan, peristiwa terdekat harus diberitakan lebih lengkap. Keempat, selalu yang pertama. Semua peristiwa yang baru pertama terjadi, layak menjadi berita. Misalkan pencurian dengan modus baru, walau korbannya kecil, layak diberitakan. Kelima, human interest. Peristiwa-peristiwa yang menyentuh perasaan terdasar manusia harus menjadi berita. Keenam, bermisi. Setiap berita harus memiliki misi atau tujuan, entah itu mencerdaskan, mendidik dan memotivasi. Ketujuh, unik. Semua peristiwa yang unik layak menjadi berita. Kedelapan, eksklusif. Berita-berita investigasi adalah contoh berita eksklusif yang tidak dimiliki oleh media lain layak menjadi berita, karena pembaca pasti menyukainya. Kesembilan, tren. Tak peduli apakah itu tren gaya hidup maupun tren perilaku. Dan terakhir, adalah prestasi. Kisah-kisah keberhasilan orang, bahkan orang biasa, penemuan-penemuan, dan lain sebagainya yang menunjukkan prestasi dan anugerah layak diberitakan.

Dahlan menyebut kesepuluh aturan itu sebagai Rukun Iman Berita. Bahkan, bila wartawan Jawa Pos tidak menemukan salah satu rukun tersebut, sebaiknya tidak usah ke kantor saja, karena bisa dipastikan dia tidak akan bisa mengetik berita apa pun.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Dahlan Iskan (1): Kerja Nyata adalah Nyawanya

dahlan iskan kerja nyata

Tangan kiri Khalisnah sedari tadi memegang perutnya sendiri. Tangan kanannya meremas ujung dipan. Dari lisannya menyeruak erangan berpadu takbir dan tasbih yang hampir tanpa jeda. Khosiatun dan Shofwati, dua anak perempuannya bergantian tak tentu ritme, mencoba membantu ibu tercintanya itu menenangkan diri.

Keringat dingin mengalir lancar dari kening Iskan, sang suami. Kepanikan memang sedang menerjangnya, tapi tak boleh lama-lama. Iskan harus segera menemui dukun bayi. Bantuan secepatnya harus segera diarahkan kepada istri tercintanya yang hendak melahirkan itu.

Takeran yang sedang terlanda paceklik panjang memang boleh melumpuhkan perekonomian salah satu desa di Magetan itu. Tapi tak boleh ikut melumpuhkan ayunan langkah cepat Iskan untuk menemui dukun bayi, walau dirinya sendiri sedang menahan lapar akut. Inilah tanggung jawab seorang ayah, harus tetap nampak gagah walau raga terkurung lelah.

Beruntung, sang dukun bayi mudah ditemui, dan bersedia ikut dengannya untuk membantu proses kelahiran kandungan Khalisnah. Kelihaiannya tercipta karena memang terbiasa membantu proses kelahiran seluruh perempuan yang hamil di desa itu. Maka, ketika menghadapi Khalisnah, sang dukun bayi tetap tenang dan tak menampakkan ekspresi kepanikan, tak seperti yang tersirat dari raut muka Khosiatun, Shofwati, apalagi Iskan.

Iskan memang pantas terlanda kerisauan. Kegalauan menerjangnya karena ia ingin ada sosok lelaki yang menemaninya di rumah. Khosiatun sebagai anak pertamanya terlahir perempuan, begitu pula Shofwati. Sudah lama sekali terpanjatkan dalam doanya agar Allah bersedia menganugerahinya anak laki-laki, yang tak hanya bisa ikut membantunya mengerjakan banyak hal sebagai aktivitas penopang keluarga. Bukannya Khosiatun dan Shofwati tak mampu berperan dalam hal itu. Akan tetapi, setiap orang juga tahu, lelaki lebih memiliki keluwesan dalam mengemban tanggung jawab dan dalam kelincahan mencari nafkah. Sudah menjadi fitrah lelaki seperti itu.

Maka, ketika Khalisnah tengah berjuang agar bayinya bisa sehat dan selamat keluar dari dalam perutnya, Iskan tengah bersibuk dengan dzikir dan rapalan doa, agar semua proses berjalan lancar dan keinginan-keinginannya terjawab indah oleh Allah.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!