Asus Zenfone 2 ZE551ML

Smartphone Asus Zenfone

Mungkin akan banyak yang bertanya, mengapa seri Zenfone teranyar justru ternamai dengan Asus Zenfone 2, sedangkan sebelumnya dengan penamaan angka yang lebih tinggi, yakni Zenfone 4, Zenfone 5 dan juga Zenfone 6. Ketiga seri terakhir adalah generasi pertama dan merujuk kepada lebar layarnya. Sedangkan Zenfone 2, merujuk kepada generasi kedua dari smartphone ini. Nah, sekarang tak usah bingung lagi, yak.

Boleh dibilang, kehadiran Zenfone generasi kedua ini memang gila-gilaan. Beberapa teman saya malah bilang, “Ini hape gokil, harganya cuman segini, tapi kualitasnya level asgard!”

Asgard adalah kampungnya Thor dan Odin. Iya, Thor yang di Avenger itu.

Kehadiran Zenfone 2 yang mengusung RAM segede 4GB, akan memanjakan siapapun yang menginginkan kelancaran menggunakan smartphone-nya, sedangkan kerjaannya membutuhkan multitasking yang juga level Asgard. Setahu saya, Zenfone 2 ini adalah smartphone pertama yang mengusung RAM segede itu. Apalagi, dengan dukungan memori internal sebesar 32GB, tentu aka makin memanjakan insan muda aktif yang membutuhkan dukungan smartphone yang bisa diajakin kompromi dalam hal data dan anti macet saat harus pindah aplikasi. Jelas banged, lihat saja dukungan chip Intel Atom Z3580 yang merupakan salah satu produk chip terbaru Intel yang berplatform Moorefield. Kualitasnya tak perlu diragukan. Chip ini mensupport kinerja komputasi 64-bit, dengan kualitas kerja lebih cepat dan efisien. Dengan basis Android 5.0 Lollipop dan interface Asus ZenUI dan kapasitas baterai 3.000 mAh, membuat smartphone ini makin menggemaskan untuk dimiliki sebagai bukti kekinian.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Aplikasi Ilmu Desain Grafis dalam Kerja Nyata di Industri Kreatif

Setelah postingan yang lalu kita membahas tentang dunia desain grafis secara umum, sekarang kita akan membahas tentang aplikasi teknis tentang ilmu desain grafis dan bagaimana aplikasinya dalam lingkup kerja nyata dalam industri kreatif. Semoga beberapa paparan berikut, bisa menambah wawasan dan juga mempertebal minatmu untuk masuk dalam industri kreatif sebagai desainer grafis.

 

Unsur-Unsur Desain Grafis

Ibarat memasak menu yang spesial, ada komposisi bahan-bahan, serta cara meramu yang khusus dalam menghasilkan hidangan yang lezat. Demikian juga dengan desain grafis. Ada unsur-unsur yang harus dipahami oleh desainer grafis agar dapat menghasilkan komposisi desain yang estetik, harmonis, komunikatif dan menyenangkan untuk dinikmati audiens.

Unsur-unsur tersebut di antaranya, garis (line), bidang (shape), warna (color), gelap terang (value), tekstur (texture) dan format (format).

#1: GARIS (LINE)

Garis dapat dimaknai sebagai jejak sesuatu. Goresan pensil, pena atau mouse di komputer dan lain sebagainya. Garis tidak memiliki kedalaman (depth), hanya memiliki ketebalan dan panjang. Oleh karena itu, garis adalah elemen satu dimensi.

Wujud garis dangat bervariasi. Garis lurus mengesankan kaku dan formal, garis lengkung memberikan kesan lembut dan luwes, garis zig-zag berarti keras dan dinamis, garis tidak beraturan berarti fleksibel dan tidak formal. Kemudian, garis horizontal mengesankan pasif, tenang dan damai. Garis vertikal memiliki kesan stabil, gagah dan elegan. Garis diagonal dapat diartikan sebagai makna aktif, dinamis dan menarik perhatian. Masih banyak variasi lainnya yang biasa digunakan, seperti garis putus-putus, gradasi, tebal tipis, dan sebagainya.

Penggunaan garis dalam desain komunikasi visual tidak terikat pada aturan dan ketentuan, karena pada dasarnya garis adalah elemen visual yang dapat dipakai di mana saja, asalkan bertujuan memperjelas dan mempermudah audiens, atau sekadar pemanis yang bisa disusun sedemikian rupa.

Garis dalam pemahaman semiotika, memiliki arti yang lebih luas lagi, yaitu elemen yang tidak selalu tergores di atas kertas. Deretan tiang lampu, repetisi pepohonan di jalan, kemudian kolom-kolom arsitektur juga dapat dimaknai sebagai garis.

Penggunaan garis perlu diperhitungkan secara cermat, sehingga tidak terkesan asal-asalan dan dipaksakan. Tujuan dari desain komunikasi visual adalah untuk menyajikan informasi baik verbal maupun visual, agar dapat ditangkap dengan mudah, menarik dan menyenangkan sekaligus mengesankan. Selain itu, desainer grafis dapat menggunakan garis sebagai ilustrasi.

#2: BIDANG (SHAPE)

Shape atau bidang adalah segala bentuk apapun yang memiliki dimensi tinggi dan lebar. Bidang dapat berupa bentuk-bentuk geometris (lingkaran, segitiga, segiempat, elips, setengah lingkaran dan sebagainya) dan bentuk-bentuk yang tidak beraturan.

Bidang geometris memiliki kesan formal, sebaliknya, bidang non geometris memiliki kesan tidak formal dan dinamis.

Dalam dunia desain grafis, pengertian bidang tidak terbatas hanya itu saja. Area kosong yang berada di antara elemen-elemen visual dan space yang mengelilingi gambar/foto, bisa juga disebut sebagai bidang. Blank space (bidang kosong) bahkan bisa dianggap sebagai elemen desain. Bidang kosong dimaksudkan untuk menambah kenyamanan baca (legibility) dan menimbulkan gairah membaca juga memberikan kesan nyaman dan “bernafas” dan memberikan tekanan kepada obyek visual yang ada dalam sebuah desain.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Memahami Dunia Desain Grafis dan Peran Desainer Grafis dalam Industri Kreatif

Saat ini kita melihat seolah dunia bergerak dengan sangat cepat. Segala kemudahan dalam dunia informasi dan industri semakin dapat dinikmati semua kalangan. Hal ini berbanding lurus dengan kebutuhan manusia akan desain grafis.

Mengapa bisa begitu?

Karena hampir semua industri dan juga informasi memerlukan desainer grafis untuk menerjemahkan ide dan gagasan ke dalam berbagai media secara kreatif dan juga efektif.

 

Sekilas Desain Grafis dalam Sejarah Indonesia

JIka kita berkunjung ke daerah Magelang, Jawa Tengah, akan kita dapati Candi Borobudur berdiri megah, dengan relief batu-batu yang mengisahkan Budha. Hal itu merupakan bukti, bahwa sekitar abad ke-9 desain telah memasuki nusantara, dalam bentuk ukiran-ukiran batu pada candi dan aneka prasasti.

Untuk mengetahui kapan persisnya desain grafis masuk Indonesia, cara paling gampang adalah dengan menelaah lagi sejarah, yaitu kapan pertama kali mesin cetak didatangkan ke Indonesia. Ternyata, pada tahun 1659 M mesin cetak sudah masuk ke Indonesia. Ketika mesin cetak sudah masuk ke Indonesia, tentu saja pekerjaan desain grafis sudah mulai diperlukan. Karena jika ada proses cetak mencetak, maka sudah tentu melibatkan keahlian, pengalaman, serta pengenalan font dan layout. Dan itu, tentu saja adalah tugas seorang desainer grafis.

Iklan sebagai salah satu wujud dari desain grafis juga telah dikenal di Indonesia. Jan Pieterzoen Coen, pendiri kota Batavia sekeligus gubernur Jenderal Hindia Belanda (1919-1629), memiliki peran yang cukup besar dalam membawa budaya iklan ke Indonesia.

Iklan pertama kali muncul di Indonesia pada 7 Agustus 1744 di Batavia (nama sebelum Jakarta) bersamaan dengan terbitnya surat kabar Bataviasche Nouvelles milik VOC. Sayangnya, surat kabar ini hanya bertahan hingga 20 November 1745 karena informasi-informasi yang disampaikan dianggap mengganggu stabilitas politik perdagangan. Iklan menggunakan media cetak mulai marak setelah negara kolonial menetapkan undang-undang agrarian pada tahun 1870. Iklan-iklan tersebut dianggap efektif dalam memenangkan persaingan dan menjaring investor. Selain melalui media cetak, iklan juga disampaikan melalui poster dan leaflet yang disebarkan serta ditempel di tempat-tempat strategis.

Pada awal abad 20, berbagai macam iklan mulai banyak ditemui di media cetak. Tentang perkebunan, kebutuhan keluarga, sepeda, baju bedak, rokok, obat-obatan dan lain-lain. Disusul kemudian iklan-iklan jasa, seperti kursus menjahit, reparasi dan lain-lain.

Dengan maraknya iklan, perusahan periklanan pun bermunculan, dari perusahaan besar, menengah, hingga perusahaan kecil. Banyak dari perusahaan tersebut yang dijalankan para keturunan Cina, antara lain: NV Tjiong Hok Long (1901) dan Bureau Reklame Lau Djin yang berada di Solo. Sedang di kota semarang, muncul perusahaan periklanan seperti Liem Eng Tjang & Co, Ko Tioen Siang, Clear, dan lain sebagainya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!
  • 1
    Share

Manage Your Energy, Manage Your Life

Sadar Penuh Hadir Utuh

Bagaimana bisa kita berhasil merampungkan sebuah pekerjaan hanya dua jam, sedangkan pada lain waktu membutuhkan empat jam, padahal bobot kesulitan pekerjaan sama.

Mengapa?

Karena kita fokus dan mengerahkan 100% kemampuan pada dua jam tersebut. Energi kita curahkan. Sedangkan yang empat jam, karena kita hanya mencurahkan energi sebesar 50% saja.

Waktu lama tidak bisa dijadikan tolak ukur produktivitas. Lalu, bagaimana caranya memberdayakan energi agar pekerjaan bisa maksimal?

Sadar penuh dan hadir utuh pada pekerjaan tersebut. Fokus dan satukan antara pikiran, raga, dan hati. Kedua, jangan menunda-nunda. Di sinilah pentingnya skala prioritas. Selesaikan dulu pekerjaan paling sulit, sehingga yang mudah akan terasa enteng. Hajar dulu pekerjaan paling menyebalkan, hingga sisanya terasa ringan. Mau tidak mau, pekerjaan tersebut harus diselesaikan, bukan? Makanya, tangani yang tersulit dulu.

Semakin baik kita mengelola energi, semakin banyak hal bermutu yang bisa kita selesaikan dalam hidup.

Jangan tunggu hingga kamu siap untuk take action. Tetapi, take action-lah, supaya kamu siap. Jangan mengandalkan mood, karena sesuatu yang sifatnya ‘tak jelas’ seperti mood memang tak bisa diandalkan kapan datangnya. Dia bukan pacarmu yang bisa di-mention dulu kapan mau datang. Bisa janjian dulu kapan akan ketemuan. Mood bahkan fana. Sangat fana. Jangan terlalu mengandalkan sesuatu yang tak kelihatan seperti itu.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!