Teknik Memanfaatkan Sosial Media untuk Promosi Buku

Keberadaan sosial media makin memudahkan kita untuk melakukan promosi buku. Hanya perlu melakukan beberapa hal sederhana namun hasilnya sangat powerful. Meski demikian, dalam penerbitan sebaiknya untuk promosi melalui internet perlu dibagi menjadi dua: buku unggulan dan bukan unggulan. Memang semua buku yang terbit telah melalui serangkaian seleksi, sehingga semuanya pasti sudah masuk dalam kategori buku unggul. Akan tetapi, tetap perlu dipilah mana yang benar-benar membutuhkan promosi yang lebih dan tidak.

 

BUKAN UNGGULAN

Setiap penerbit setidaknya memiliki tiga hal wajib dalam dunia maya. Pertama, website resmi. Kedua, akun Twitter. Ketiga, akun Facebook. Lebih baik lagi, bila ditambah dengan akun Pinterest. Ketiga hal wajib tersebut mutlak diperlukan di era digital seperti sekarang ini, selain untuk mengukuhkan brand juga memudahkan promosi dan engage konsumen yang lebih gampang.

Pertama, website resmi.

Dalam website resmi, paling tidak harus memuat tujuh hal. (1) katalog buku beserta keterangan lengkapnya; (2) profil para penulis di penerbit tersebut; (3) pembelian langsung buku lewat web tersebut dengan diskon khusus; (4) agenda terdekat kegiatan yang berkaitan buku; (5) cara mengirimkan naskah; (6) link untuk sosial media seperti Facebook, Twitter dan Pinterest; dan yang terakhir (7) PDF katalog yang bisa diunduh untuk memudahkan calon pembaca dan pembeli menemukan buku kesukaannya.

Bagus lagi bila web tersebut menyediakan blog khusus untuk para editor penerbit. Dengan begitu, akan terbangun hubungan yang baik antara editor dengan pembaca, bahkan calon penulis-penulis masa depan yang baru.

Kedua, akun Twitter.

Kekuatan retweet di Twitter sangat luar biasa. Hebat lagi bisa menjadikan salah satu produk buku trending topic. Agendakan secara rutin untuk kultwit isi buku. Termudah, ajaklah penulisnya langsung untuk memberikan kultwit . Jangan lupa di sesi akhir selalu tekankan untuk merujuk ke website, dan upayakan terjadi eksekusi pembelian. Mungkin bisa diakali dengan dengan pembelian langsung lewat website pada saat itu akan mendapatkan diskon khusus.

Ketiga, akun Facebook.

Kegunaannya, selain memiliki akun resmi sendiri, juga untuk membuat Grup dan Fans Page. Kegunaan grup tentu membangun komunikasi dua arah antara penerbit dengan pembacanya tentu lebih baik lagi. Komunikasi dua arah ini penting untuk membangun ikatan emosional antara pembaca, penulisnya, bahkan penerbitnya. Fans Page lebih ke arah lebih umum dalam membangun branding. Semakin banyak likers Fans Page, terkadang bisa menjadi tolak ukur tingkat keterkenalan dan kesuksesan penerbit tersebut.

Keempat, Pinterest.

Disebut-sebut sebagai sosial media ketiga terbesar setelah Facebook dan Twitter. Dalam Pinterest, bisa menampilkan kover-kover buku koleksi milik penerbit untuk di-display, sehingga akan mudah di-repin oleh follower sebagai buku favorit. Dengan begitu, tentu akan dilihat oleh follower yang lain. Di sini, viral marketing sangat efisien, karena Pinterest didesain sebagai sebuah board yang mengoleksi barang-barang favorit user-nya.

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Bagaimana Cara Membuat Resensi Buku?

Salah satu fungsi resensi adalah mengenalkan buku tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Dengan adanya resensi, calon pembaca baru akan mengetahui kekuatan dari buku tersebut.

Menulis resensi sebenarnya mudah. Namun, sebelum meresensi, semestinya seseorang memahami dasar-dasar menulis resensi, yaitu:

Pertama, memahami atau menangkap tujuan (maksud) pengarang dengan karya yang dibuatnya. Berhasil atau tidaknya kita menangkap tujuan dari sang penulis akan menentukan bagus atau tidaknya resensi.

Kedua, memiliki tujuan dalam membuat resensi buku. Seperti dasar menulis artikel pada umumnya, sebuah tulisan harus didasarkan sebuah tujuan. Begitu juga dengan resensi. Tujuan itu bisa berupa mengajak orang-orang untuk ikut membaca buku itu, ataupun bisa sebagai kritik dan masukan bagi sang penulis.

Ketiga, harus mengenal atau mengetahui selera dan tingkat pemahaman dari pembaca. Dengan memahami selera dan tingkat pemahaman pembaca, kemudian akan tercipta gaya tulisan dan juga buku yang hendak diresensi.

Keempat, mempunyai pengetahuan dan menguasai berbagai disiplin pengetahuan sebagai tolak ukur ketika mengemukakan keunggulan dan kelemahan buku. Menguasai berbagai pengetahuan akan mempermudah kita menulis resensi yang memadai sesuai dengan kategori buku tersebut. Seperti menulis resensi tentang buku keislaman tentu harus memiliki wawasan keagamaan yang cukup.

Kelima, jadilah pengamat buku sekaligus kolektor buku. Bagus atau tidaknya sebuah buku akan relatif berbeda tiap orang. Memberikan perbandingan dengan buku lain akan mempermudah kita dan pembaca dalam menentukan tolak ukur kadar kualitas buku yang diresensi.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Membuat Kover Buku, Judul dan Blurb yang Powerful

Terdapat dua elemen penting dalam pembuatan kover depan dan belakang yang ciamik. Pertama, unsur teksnya yang powerful. Dan kedua, unsur desain yang keren.

 

TEKNIK MEMBUAT JUDUL BUKU

Tak ada aturan resmi bagaimana membuat judul buku yang menarik. Pastinya, judul yang menarik adalah judul yang mudah diingat, mewakili isi buku, dan memiliki daya jual—karena bagaimanapun penerbitan adalah industri, selain memiliki konten yang menarik, tentu buku tersebut harus mampu terjual. Namun begitu, ada beberapa pedoman yang layak diperhatikan untuk membuat judul yang menarik.

Pertama, menggunakan aliterasi. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata permulaannya sama bunyi. Contoh: Dengar Daku Dadaku Disapu. Dengan memanfaatkan majas ini, tentu akan terasa menambah keindahan sebuah judul buku.

Kedua, menggunakan angka. Menggunakan angka sebagai judul akan memudahkan calon pembeli buku untuk mengetahui seberapa banyak benefit yang ditawarkan dalam buku. Contoh: 7 Keajaiban Menikah; 100 Ide Paling Berpengaruh dalam Bisnis.

Ketiga, menggunakan Hot Words. Yang masuk dalam kategori hot words adalah: Luar Biasa!, Misteri, Rahasia, Keajaiban. Keempat kata tersebut akan menyedot perhatian lebih banyak daripada kata lainnya.

Keempat, kontroversi. Penggunaan judul yang berbau kontroversi tentu hanyalah strategi pemasaran belaka. Isinya tetap harus bertanggungjawab dan menyajikan kebenaran.

Kelima, pertanyaan. Dengan menggunakan model pertanyaan, tentu calon pembaca juga akan merasa, “Oh, iya ya….” Atau, “Apa benar ya….?” Bahkan bisa jadi, “Wah, bagaimana ya…?” Dengan begitu, akan memudahkan calon pembeli untuk berkata dalam hati bahwa buku tersebut wajib beli.

Keenam, KISS. Yaitu singkatan dari keep it simple, stupid! Judul tentu harus padat, ringkas, dan jelas. Selain agar mudah diingat, judul yang panjang akan menyusahkan dalam hal desain. Buku-buku yang sukses di pasaran seringkali memiliki judul yang simpel. Misalnya: The Outliers, Enchantment, Rich Dad Poor Dad, The Secret, Quantum Ikhlas, dan Oh My Goodness!

Ketujuh, pique curiousity. Memberikan efek kepenasaran yang tinggi pada pembaca bahkan cenderung berlawanan dengan pandangan umum yang sudah beredar, tentu akan menimbulkan ketertarikan yang tinggi untuk membeli buku. Misal: Sukses Tidak Butuh Kerja Keras.

Kedelapan, promise a benefit. Orang Barat biasa menyebutnya dengan What’s In It for Me? Yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan Ambak atau Apa Manfaatnya Bagiku. Semakin jelas judul menawarkan sebuah benefit tertentu, semakin mudah untuk menarik perhatian dan pembelian. Misal: Bebas Stroke dengan Bekam.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!