Tertantang Sekaligus Bersenang-Senang

Annemarie Schimmel, yang mengagumi Muhammad Iqbal ini, menerjemahkan Javidnama, karya besar pujangga Pakistan tersebut. Hingga kemudian, pemerintah Pakistan menganugerahinya Hilal Al-Imtiyaz; penghargaan teratas yang diberikan kepada warga sipil.

Pada 1988, setelah tiga puluh tahun sebelumnya ia menjejak pertama kakinya di Pakistan itu, namanya dijadikan beasiswa kepada mahasiswi pascasarjana untuk melanjutkan studi di Inggris. Serunya lagi, sebuah jalanan indah Lahore dengan pepohonan di kanan kirinya yang anggun, menggunakan namanya. Karya tulisnya mencapai lebih dari 80 judul buku dan esai serta makalah yang tak terhitung banyaknya.

Di tahun 1995, ia pun mendapat penghargaan German Book Trade Peace Prize, dan mendapatkan dua puluh lima ribu Euro dari Muhammad Nefi Chelebi Media Prize dalam sebuah seremoni yang berlangsung di National Islamic Archive, Jerman. Serentetan award tersebut merupakan bukti keproduktifan dan keaktifannya dalam berkarya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Setiap Penulis Memiliki Jiwa Khasnya Sendiri

“Engkau harus menemukan sebuah kunci; sebuah petunjuk untuk mendapatkan gaya menulismu sendiri. Sebab, yang engkau miliki hanya dua puluh enam huruf dalam abjad itu, beberapa tanda baca, dan beberapa kertas.”

Toni Morrison

Berapa banyak salah yang kita terakan selama proses menulis? Sering salah, berarti kreatif. Bukan, bukannya salah itu berarti kreatif. Akan tetapi, kalau kita tidak siap untuk salah, kita tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang orisinil.

Lebih bagus kita menghasilkan sejuta kesalahan karena telah mencoba melakukan banyak hal, meramu sana-sini, menggabung ini-itu, daripada selalu benar, namun sebenarnya tak pernah melakukan apa pun. Kita berhenti dan menikmati empuknya sofa, tapi yang lain sudah berkelana menjelajah semesta. Chicken stays, eagle flies.

Lakukan kreativitas, siapa pun adanya diri kita, dan di mana pun kita berada. Lakukan sesuatu yang berbeda, meskipun butuh waktu untuk melihat dan menikmati hasilnya.

Berproseslah. Jangan ingin cepat besar. Mulailah dari langkah-langkah kecil yang terus-menerus diperbaiki. Memperbaiki di tiap tahapan akan lebih kelihatan nikmatnya. We can do anything, but we can’t do everything.

Trust your idea. Setiap ide pasti bermanfaat dan menunjukkan keunikannya. Hanya saja, mungkin ide tersebut tidak cocok digunakan untuk saat ini. Hanya yakini saja. Kuat-kuat. Di masa depan, bisa jadi ide kita justru bisa menghasilkan sesuatu yang mengguncang dan membuat para epigon kewalahan.

Setiap penulis mempunyai jiwa dan kepribadian sendiri untuk menyawai karyanya menjadi sajian yang unik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

It’s Crafted with Passion

“Aku tidak menunggu mood,” kata Pearl S. Buck, “kita tidak akan mencapai apapun jika mengandalkan kondisi semacam itu. Pikiran kita harus tahu kapan ia harus bekerja…”

Kalimat itu meluncur dari sosok yang mendapatkan hadiah nobel untuk sastra pada tahun 1938. Ia, setelah menikahi seorang ahli pertanian pada tahun 1917 di China, mendapatkan seorang putri manis empat tahun kemudian. Sayangnya, sang putri menderita fenilketonuria, penyakit langka yang menyebabkan retardasi mental. Tapi dari peristiwa itu, ia justru terinspirasi untuk menyuguhkan The Child Who Never Grew kepada para pembaca.

Sebagai karya terbaiknya, dunia sepakat dengan The Good Earth, yang langsung terjual 1.800.000 eksemplar pada tahun pertama tersebut. Sebuah pencapaian mencengangkan dan tak disangka. Novel ini bertahan dalam daftar best seller selama 21 bulan, dan memenangi penghargaan Pulitzer sebagai novel terbaik pada tahun itu. Beberapa novelnya kemudian dialihkan menjadi film, termasuk The Good Earth, Dragon Seed, China Sky, dan The Devil Never Sleeps.

Empat puluh tahun malang-melintangnya dalam dunia menulis, telah mencatatkan delapan puluh karya, termasuk novel, skenario, kumpulan cerpen, puisi, buku anak-anak, dan juga biografi.

[bctt tweet=”Bagaimana ia melakukannya? It’s crafted with passion.”]

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Hal Apa Saja yang Harus Kamu Lakukan Sebagai Blogger Pemula?

Banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana saya bisa rutin menulis di blog ini, secara konsisten, dan gilanya lagi, kata mereka, dengan beragam tema namun tetap dalam satu bingkai: kreatif. Dan lebih gilanya lagi, kata mereka lagi, tampilan blog ini keren, responsif, dan ngangeni untuk dikunjungi balik. Itulah mengapa, walau blog ini baru saya gulirkan awal tahun 2015, namun sehari sudah ada pengunjung mendekati angka dua ribu!

Saya tidak memiliki resep khusus. Akan tetapi, berangkat dari pengalaman, saya akan sharing deh tentang apa saja sih yang harus kamu lakukan agar bisa ngeblog dengan baik dan rutin.

Satu. Ngebloglah sesuai passion-mu. Iya, kamu harus sering bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Aku ngeblog untuk apa?” Ngeblog tidak sehari atau dua hari. Maka, pastikan dia sesuai passion-mu. Bila tidak, kamu tidak akan konsisten mengisi konten. Karena passion-ku dunia kreatif, maka saya pun ngeblog bertema itu. Jadinya enak, santai pas nulis, dan bisa terus ngisi konten.

Dua. Gunakan WordPress dan pilihlah theme yang bagus. Hingga saat ini, WordPress tetaplah platform terbaik menurut saya. Selain itu, plugin pendukungnya juga banyak. Theme yang dipilih pun luar biasa banyak dan bagus-bagus. Maka, pastikan memakai WordPress dan pilih theme yang bagus, yak. Kalau mau gratisan, bisa nongkrongin di banyak penyedia theme WordPress gratisan. Kalau mau versi berbayar seperti punya saya ini, bisa nongkrongin di ThemeForest. TInggal pilih sesuai kebutuhan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Teknik Memanfaatkan Sosial Media untuk Promosi Buku

Keberadaan sosial media makin memudahkan kita untuk melakukan promosi buku. Hanya perlu melakukan beberapa hal sederhana namun hasilnya sangat powerful. Meski demikian, dalam penerbitan sebaiknya untuk promosi melalui internet perlu dibagi menjadi dua: buku unggulan dan bukan unggulan. Memang semua buku yang terbit telah melalui serangkaian seleksi, sehingga semuanya pasti sudah masuk dalam kategori buku unggul. Akan tetapi, tetap perlu dipilah mana yang benar-benar membutuhkan promosi yang lebih dan tidak.

 

BUKAN UNGGULAN

Setiap penerbit setidaknya memiliki tiga hal wajib dalam dunia maya. Pertama, website resmi. Kedua, akun Twitter. Ketiga, akun Facebook. Lebih baik lagi, bila ditambah dengan akun Pinterest. Ketiga hal wajib tersebut mutlak diperlukan di era digital seperti sekarang ini, selain untuk mengukuhkan brand juga memudahkan promosi dan engage konsumen yang lebih gampang.

Pertama, website resmi.

Dalam website resmi, paling tidak harus memuat tujuh hal. (1) katalog buku beserta keterangan lengkapnya; (2) profil para penulis di penerbit tersebut; (3) pembelian langsung buku lewat web tersebut dengan diskon khusus; (4) agenda terdekat kegiatan yang berkaitan buku; (5) cara mengirimkan naskah; (6) link untuk sosial media seperti Facebook, Twitter dan Pinterest; dan yang terakhir (7) PDF katalog yang bisa diunduh untuk memudahkan calon pembaca dan pembeli menemukan buku kesukaannya.

Bagus lagi bila web tersebut menyediakan blog khusus untuk para editor penerbit. Dengan begitu, akan terbangun hubungan yang baik antara editor dengan pembaca, bahkan calon penulis-penulis masa depan yang baru.

Kedua, akun Twitter.

Kekuatan retweet di Twitter sangat luar biasa. Hebat lagi bisa menjadikan salah satu produk buku trending topic. Agendakan secara rutin untuk kultwit isi buku. Termudah, ajaklah penulisnya langsung untuk memberikan kultwit . Jangan lupa di sesi akhir selalu tekankan untuk merujuk ke website, dan upayakan terjadi eksekusi pembelian. Mungkin bisa diakali dengan dengan pembelian langsung lewat website pada saat itu akan mendapatkan diskon khusus.

Ketiga, akun Facebook.

Kegunaannya, selain memiliki akun resmi sendiri, juga untuk membuat Grup dan Fans Page. Kegunaan grup tentu membangun komunikasi dua arah antara penerbit dengan pembacanya tentu lebih baik lagi. Komunikasi dua arah ini penting untuk membangun ikatan emosional antara pembaca, penulisnya, bahkan penerbitnya. Fans Page lebih ke arah lebih umum dalam membangun branding. Semakin banyak likers Fans Page, terkadang bisa menjadi tolak ukur tingkat keterkenalan dan kesuksesan penerbit tersebut.

Keempat, Pinterest.

Disebut-sebut sebagai sosial media ketiga terbesar setelah Facebook dan Twitter. Dalam Pinterest, bisa menampilkan kover-kover buku koleksi milik penerbit untuk di-display, sehingga akan mudah di-repin oleh follower sebagai buku favorit. Dengan begitu, tentu akan dilihat oleh follower yang lain. Di sini, viral marketing sangat efisien, karena Pinterest didesain sebagai sebuah board yang mengoleksi barang-barang favorit user-nya.

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!