6 Jenis Homo Digitalis

Sekarang, kita tak bisa lepas dari smartphone. Saat makan, kita lebih dulu memfoto makanan daripada berdoa. Saat berkumpul di ruang keluarga, masing-masing bahkan sibuk dengan gadget-nya. Bahkan, saat mandi pun, smartphone dibawa sebagai pemutar mp3 pengiring mandi.

Teringat saya dengan pembagian Homo Digitalis, hasil riset dari Digital Antrophology yang diselenggara oleh University of Kent dan TalkTalk di UK. Istilah Homo Digitalis merujuk kepada manusia yang dekat dengan teknologi. Inilah pembagian enam kelompok di dalamnya:

#1: Digital Extroverts

Terlibat sangat dengan teknologi konvergensi antara mobile dan internet, seperti BlackBerry, iPhone, dan Android.

Internet addict. Sangat butuh dengan bandwidth besar, dan tidak suka dengan koneksi lelet.

Status update adalah rutinitas. Terlewatnya sehari tanpa terkoneksi dengan internet adalah kehilangan. Social media sudah sangat akrab digeluti.

Gemar sekali berbagi. Aktif menulis blog. Selalu mengamati secara real time aktivitas teman dan keluarga.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

10 Cara Membangun dan Mengembangkan Kebiasaan Membaca

Membaca adalah pendidikan seumur-umur. Jenjang sekolah mungkin memberikan habit membaca. Akan tetapi, itu lebih mirip pemaksaan daripada menunjukkan bahwa membaca adalah sebuah kenikmatan yang sulit sekali dihentikan. Lulus sekolah, otomatis aktivitas membaca sudah selesai. Sangat tidak menarik bukan?

Mortimer J Adler dalam How to Read a Book memaparkan fase-fase asik membaca:

Membaca Dasar. Adalah saat-saat di mana kita belajar mengeja. Ini A, ini B, ini C, dan seterusnya. Setelah itu, kemampuannya meningkat dengan mampu membaca kata dan kalimat dengan lancar tanpa beban. Pada tahap tertentu, sudah mampu silent reading. Tidak lagi pakai mulut yang mengeluarkan kata-kata.

Membaca Inspeksional. Adalah saat-saat di mana kita membaca secara cepat dan sekilas. Membaca cepat bukanlah keahlian hebat. Karena bagaimanapun, membaca cepat hanya berfungsi untuk menginspeksi sesuatu. Misalnya, saat kita menginginkan sebuah buku yang terpajang di rak buku, kita ingin menentukan buku ini layak kita baca ataukah tidak. Atau, kita sedang melihat catatan kaki, dan lain sebagainya yang membutuhkan penglihatan sekilas. Bagaimanapun, membaca membutuhkan penyerapan makna. Membaca cepat, akan melupakan aspek penting ini. Kita tak bisa menikmati buku secara lebih baik dan menangkap pesan-pesan istimewa yang telah diselipkan penulisnya.

Membaca Analitis. Fase ini berarti membaca tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengunyah, mencerna, menimang-nimang, menyarikan, dan menyajikan lagi ke dalam sebuah tulisan. Sepertinya sangat melelahkan. Akan tetapi, setelah disajikan lagi dalam sebuah tulisan, justru di situlah letak kenikmatan paling tinggi dari sebuah aktivitas yang bernama membaca. Tidak banyak orang yang sampai pada tahap ini. Kebanyakan hanya pada fase membaca, tanpa pernah mengerahkan segenap daya pikir untuk menyajikan lagi dalam tulisan.

Membaca Sintopikal. Ini adalah fase terakhir. Pada fase ini, kita membaca beberapa buku dalam tema yang sama, kemudian dibandingkan, dianalisis, disintesiskan menjadi sebuah ide baru untuk disajikan kepada pembaca. Yap! Inilah tahap para penulis. Para penulis tidak hanya berhenti dalam membaca saja. Tapi tema-tema serupa diusahakan dilahap habis, kemudian diramu dengan berbagai hal, agar tercipta ide-ide baru untuk pembaca.

Nah, melihat sekian kegunaan dari membaca tersebut, masalahnya sekarang adalah: bagaimana menciptakan reading habit?

1. Selalu sediakan beberapa menit per hari.

Membaca dengan cara mencicil adalah solusi terbaik bagi yang ingin membangun reading habit. Hendak beranjak tidur misalnya, alokasikan saja 10 menit untuk membaca. Itu sudah mendapat paling tidak dua halaman novel. Ketika menunggu bus datang, bisa sambil membaca. Itu sudah mendapat paling tidak empat halaman novel.

Jika setiap kegiatan-kegiatan yang ringan dan bisa diselingi membaca, lakukanlah. Saat menunggu bus: 10 menit. Saat mau tidur: 10 menit. Saat menunggu mie rebus matang: 5 menit. Dari itu saja, kita sudah mendapatkan 25 menit untuk membaca dalam sehari. Tinggal kalikan saja dalam satu pekan. Satu bulan. Satu tahun.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Sejarah Kreativitas Kover Buku

Selain sebagai gerbang pertama untuk menarik pembeli sebelum memutuskan membeli dan kemudian membaca sebuah buku, kover juga berfungsi sebagai pelindung berderet-deret kertas dan teks yang terselip rapi di dalamnya.

Mula-mulanya, kover buku memang hanya berfungsi sebagai peletakan judul dan pelengkap penjilidan saja. Tak lebih. Jadi, jangan tanya elemen seninya. Selain tak ada, juga tak digubris. Tetapi, angin segar mulai menghilangkan kedahagaan dunia perbukuan pada abad ke-19 di Inggris.

Pada masa-masa itulah, kover buku benar-benar mulai dipikirkan menjadi bagian tersendiri dari sebuah buku. Bukan melulu untuk urusan peletakan sebuah judul. Di masa itu, yang menjadi penghangat pembicaraan adalah hadirnya The Yellow Book, an Illustrated Quarterly, Volume One, April 1894. Besutan sang desainer Aubrey Beardsley dan juga Oscar Wilde.

Tahun 1900-an ke atas, kover buku mulai dianggap sebagai sesuatu yang jamak. Di awal-awalnya, hanya ada beberapa saja yang menambahkan sinopsis untuk back-cover. Sangat jelas, medan belakang buku ini belum jadi ajang promosi sekaligus informasi untuk membengkakkan penjualan.

Persaingan pun dirasa sudah cukup berat pada masa menjelang Perang Dunia I. Oleh itulah, para penerbit menggaduhkan dunia perbukuan dengan menggandeng desainer khusus. Mengapa terasa perlu dihadirkan? Alasannya sederhana, karena kover buku akan meningkatkan daya jual dan nilai tambah bagi sebuah buku, maka penggarapan serius di lahan ini mutlak diupayakan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Creative Online Community, Menumbuhkan Kreativitas Lewat Komunitas Maya

Online community bukanlah social network. Masuk kategori social network misalnya adalah Facebook, MySpace, atau LinkedIn. Sedangkan yang masuk kategori online community misalnya adalah Flickr.

Perbedaan mendasarnya adalah seperti ini:

Mereka yang bergabung ke social network adalah orang-orang yang ingin menguatkan hubungan yang lama atau membangun hubungan baru. Sedangkan online community, terbentuk karena kesamaan ketertarikan, hobi, ataupun lokasi tinggal.

Misalnya Flickr, disebut online community karena yang terkumpul di situ bukan mereka yang memiliki hubungan nasab, teman, klien, dan lain sebagainya. Akan tetapi, karena kesamaan hobi, yaitu fotografi.

Orang-orang sering mengeluh dengan social network yang isinya ‘sampah’ karena sering berisi keluhan, galauan, dan yang semacamnya. Tak sepenuhnya benar, karena social network bisa berperan dengan sangat baik sebagai sarana silaturahim, tes market produk, survei, kolaborasi, dan lain sebagainya bila kita memang pandai memanfaatkannya untuk kemanfaatan.

Saya biasa menumbuhkan kreativitas dengan sering-sering menyambangi creative online community. Misalkan saja dua online community berikut ini, yang mungkin masih jarang kamu dengar.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Mengapa Logo yang Keren itu Penting?

Di antara hijabers lain yang berhasil mentransformasikan personal brand-nya menjadi produk, Ria Miranda termasuk yang memiliki logo paling menggemaskan, baik dari pemilihan font maupun warna khasnya. Alhasil, activation brand-nya juga selalu memorable, karena telah berhasil mengkreasi logo mengagumkan.

opening ria miranda

Logo yang baik memang mudah diingat, bangga untuk ditampilkan bahkan oleh konsumen itu sendiri.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!