Resolusi 2016

melaka malaysia

Ini benar-benar tahun yang menyita banyak sekali energi, namun pada saat yang sama, sekaligus memberikan harapan baru. Dan segala yang terjadi pada tahun ini, memberikanku sedikit-banyak pengaruh juga untuk menghadapi tahun 2016.

Sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya juga selalu membuat resolusi ketika tahun baru menyapa. Harus saya akui, beberapa target yang kubuat tahun 2015 banyak sekali yang berantakan, namun tak jarang jua ada beberapa yang terwujud dan sesuai harapan. Bahkan, ada juga kejutan-kejutan yang di luar dugaan.

Itulah mengapa kita harus senantiasa menyemai syukur setiap hari. Kejutan dari Allah akan senantiasa menyertai hamba-Nya yang tahu berterima kasih, yang tahu bersyukur.

Beberapa hal menarik dan meninggalkan kesan selama 2015 mungkin ini.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Mengapa Banyak Orang, Termasuk Kamu, Membenci Pekerjaannya?

Selamat datang di hari Senin lagi. Selamat berjumpa dengan macet lagi. Selamat bersua dengan kubikel, setumpuk map, sederet teman kantor yang menyebalkan dan penjilat, dan daftar deadline yang harus segera dirampungkan hari ini.

Selamat datang di ‘pekerjaan’. Sebuah kata manis yang sebenarnya dimaniskan dari sebuah istilah lain: modern-day slavery.

Kamu bekerja keras. Sangat keras. Tetapi apresiasi yang kamu dapatkan adalah, “Kerjamu sangat bagus!” dengan nada menyemangati, namun penuh dengan balutan formalitas saja. Saat cara kerjamu ‘terlalu bagus’, ada banyak karyawan lain pada saat yang sama sedang menunggu saat-saat lengahmu kemudian menyerangmu dari belakang.

Being an employee is like modern slavery.

Berangkat bekerja pagi buta. Bertarung dengan ratusan pengendara lain yang memiliki ketergesaan yang sama. Setiap pagi selalu didera dua hal: ketergesaan, keterpaksaan.

Pulang petang menjelang. Bertarung lagi dengan ratusan pengendara lain yang memiliki ketergesaan yang sama. Ingin segera sampai rumah. Ingin segera terlepas dari beban pekerjaan seharian. Setiap petang selalu didera dua hal secara bersamaan: kelelahan dan kemuakan. Ingin semua ini segera berakhir.

Namun kemudian malam menjelang. Tertidur. Dan esoknya, belumlah sempat mengubah nasib hidup, sudah berjumpa lagi dengan rutinitas yang sama lagi.

Dan semua berlangsung sudah lebih dari lima tahun.

Lelah. Penat. Macet. Muak. Bosan.

Dan rumahmu masih mengontrak. Motormu masih matic. Belum sempat backpacker-an ke luar negeri. Belum sempat menjelajah nusantara. Belum sempat membuat karya keren penginspirasi banyak orang. Belum sempat membuat sesuatu yang bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Kamu merasa hidupmu hampa. Tak berguna.

Dan di saat yang sama, bosmu sudah membeli Pajero terbaru. Status Facebook-nya teranyar mengabarkan dia sedang berada di Jepang. Instagram terbarunya memerlihatkan dia sedang berpose riang di antara bonsai-bonsai cantik.

Kamu merasa bosmu sangat perlu dimusnahkan dari muka bumi ini.

Temanku adalah seorang creative maker. Dia membuat bantal leher. Sederhana. Namun total. Hampir sulit membuat janji ketemu sekadar hangout. Dia kelihatan sibuk, sekaligus produktif. Terpenting, dia baik-baik saja dengan hidupnya. Dia tidak membenci pekerjaannya. Rutinitasnya adalah ‘menghadirkan sesuatu yang keren’ dari tangannya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

[Free Download E-Guide] Best Seller Labs: 20 Rahasia Memasuki, Membangun dan Mengembangkan Karier Penulisan Profesional

Sudah lebih dari lima tahun saya berada di industri penerbitan. Sudah banyak saya melahirkan penulis yang bisa menjual bukunya di atas lima ribu eksemplar. Bahkan, beberapa di antaranya adalah penulis-penulis yang belum pernah menulis buku sama sekali. Akan tetapi, saya berhasil membuat buku pertamanya tersebut mendapatkan perhatian pembaca. Sebut saja misalnya, Muhammad Ilman Akbar dengan bukunya 101 Young CEO, kemudian ada juga Adjie Silarus dengan bukunya Sejenak Hening, dan masih banyak lagi. Saya saja sampai lupa.

Selama itu pula, saya bekerja sama dengan banyak penulis-penulis keren yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, seperti Alberthiene Endah, Zulfikar Fuad, Bambang Trim, Tasaro, dan lain sebagainya. Banyak sekali ilmu yang saya serap. Banyak pula yang telah memengaruhi kemampuan saya dalam menulis. Dari semua pengalaman, segala pengamatan saya kepada para penulis-penulis pemula, dan hasil berkawan dan berjejaring saya dengan para penulis berkemampuan jenius, beberapanya saya rangkumkan dalam e-guide ini. Ya, dan kabar baiknya bisa kamu unduh dengan gratis. Bayar saja pake doa, dan share saja postingan ini ke banyak kanal sosial media. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan menambah ketampanan saya, kok. Heuheuheu.

Oke. Pertanyaannya kemudian, apakah profesi sebagai penulis bisa membuat kita hidup? Hal itu sering ditanyakan kepada saya.

Ada satu jawaban penting di sini. Ingatlah, kemampuan menulis adalah kemampuan khusus. Dia itu semacam Kekkei Genkai dalam komik Naruto. Kemampuan khusus, yang dalam ranah epenulisan profesional, akan terhargai dengan uang yang sangat banyak, asalkan kita ngerti bagaimana cara menggunakannya. Perlu kita semua ketahui, bahwa bisnis bidang penulisan bernilai jutaan hingga ratusan juta dalam satu kali proyek.

Kapan-kapan deh ya saya share dalam artikel atau e-guide tersendiri. Yang penting, ini diunduh dulu, sebagai bekalmu untuk masa depan. Semoga, ini bisa membantu, yah, paling tidak memberikan asupan ilmu untuk tak datang dan pergi begitu saja ke ranah industri penerbitan yang memang dituntut kreativitas yang tinggi.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Sebuah Catatan untuk Entrepreneur Gathering #2 di Solo

Yap, Sabtu kemarin, saya  mengikuti acara paling ‘keren’ tentang dunia digital entrepreneurship yang digelar di Solo dengan tajuk Entrepreneur  Gathering #2.

Hebatnya, ini adalah kedua kalinya acara ini digelar. Sebuah inisiasi kreatif dari Ratakan.com dan LapakJasa.com yang tentu saja memiliki visi mulia dan sumringah: memajukan ekosistem digital entrepreneurship di Solo dan sekitarnya, dan juga melahirkan banyak wirausahawan baru di ranah tersebut. Wah, I love it!

Secara pribadi, saya sangat gembira dengan adanya acara ini. Bahkan sangat berharap, acara serupa seperti ini betebaran di Solo. Sebuah harapan, yang senada dengan salah satu postingan saya dengan harapan adanya Solo Tech Co.

Akan tetapi, ada beberapa catatan yang mungkin bisa menjadi bahan evaluasi dan akan membuat acara gathering #3 yang mungkin diadakan tahun depan akan lebih baik dan aura ‘kreatif’-nya lebih keluar.

Ketika membuat TOR untuk pembicara, pastikan bahwa pembicara akan menyampaikan materi yang ‘daging’, dan kalau perlu, teknik bagaimana mereka me-monetizing usahanya. Teman duduk di samping saya (saya sudah lupa namanya, kalau tidak salah asal Wonogiri), dengan muka super ruwet, dia pamit kepada saya untuk pulang terlebih dahulu, padahal masih sore. Belum begitu sore malahan. Katanya, acara ini tidak sesuai dengan bayangannya. Dia jauh-jauh dari Wonogiri, membawa laptop, berharap dapat materi ‘daging’, yang bisa ia catat, atau teknik-teknik rahasia dari pelaku bisnis kreatif ranah digital. Sebuah harapan yang saya harapkan juga. Masalahnya, kebanyakan pemateri malah menyampaikan story of life mereka. Seperti kata Shembah di awal-awal acara, materi ke depan akan berisi duit, duit, dan duit. Tapi saya belum mendapatkan tentang materi itu, setelah beliau turun panggung. Mungkin kekecewaan itu juga yang membuat teman duduk di samping saya memutuskan pulang duluan, padahal dia bayar full.

Misalkan, founder dari Ratakan.com. Ketika melihatnya di poster acara, saya berharap masnya akan sharing tentang bagaimana dia me-monetizing, atau sharing materi ‘daging’ tentang startup-nya. Nope. Saya tidak mendapatkannya. Teman duduk di samping saya malah menggerutu, “Ini apaan sih?” Saya nyengir, sekaligus bingung. Sebagai seseorang yang rajin membaca StartUpBisnis, TechCrunch, Mashable, Inc, SWA, Mix Marketing, dan sebagainya, saya hampir tertidur dengan materi masnya malahan. Saya tidak mendapatkan sesuatu yang baru. Kenapa? Karena masnya lebih terkesan promosi tentang startup-nya, bukan tentang bagaimana monetizing-nya, trik menjalankan startup ala dia, atau apalah yang lebih bersifat materi ‘daging’. Materi dari PriaMalas pun serupa. Motivatif. Tidak teknis. Padahal, kan saya juga pengen bisa beli Porsche kayak Mas Charlie, kan yak. Cuman, gimana caranya kalau materinya motivatif. Memangnya kita-kita kurang termotivasi apa coba untuk datang ke acara ini? Heuheuheu.

Satu-satunya materi yang membuat saya terbelalak adalah dari Rhein Mahatma. Edan. Materinya bikin saya hampir tak bernapas. Setiap slide-nya berisi materi keren. Setiap ucapannya hampir membuat saya lupa, bahwa saya belum menghembuskan napas sejak tadi. Saya sangat serius mendengarkan. Standing applause!

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menulis Tiga Halaman di Awal Pagi adalah Rahasia Penulis Sukses

Sadar Penuh Hadir Utuh

Leo Babauta, pernah menghadirkan catatan yang membuat saya berheran-heran. “Jikalah engkau merasa berkesulitan dalam tulis-menulis, cobalah meritualkan diri untuk secara rutin menulis di setiap pagi.”

Julia Cameron, dalam karyanya The Artist’s Way bahkan menggagas metode Morning Pages untuk meningkatkan kreativitas, yaitu menulis anything that comes to your head, serta menuliskan segala hal yang ingin ataupun harus dilakukan pada hari itu sebanyak tiga halaman di awal pagi. Awal-awal, kita akan kesulitan untuk menyelesaikan tiga halaman. Paling-paling, hanya akan selesai dua paragraf. Dan untuk menyelesaikan halaman yang tersisa, ditulis saja dengan: aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman, aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman, aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman. Begitu seterusnya, sampai tiga halaman habis. Hal itu sudah diantisipasi oleh Julia. Tidak apa-apa. Lama-lama, akan terjadi kebiasaan, dan percayalah, engkau akan ketagihan. Tujuan dari metode Morning Pages ini adalah untuk membersihkan otak dari hal-hal yang tidak perlu dan memberikan semangat di awal hari. Kabar baiknya, kebiasaan tersebut tak hanya meluweskan kemampuan menulis, tapi juga memperbaiki kualitas hidup.

Pagi adalah simbol semangat. Setelah lelah menghajar seharian kemudian kita terkulai dan langit pun gelap pekat, pelan-pelan bebintang hadir dan dengan cantiknya berkerlip bergantian. Setelah hajaran kelelahan, langit seolah mengajarkan, “Tak perlu meratap di pekatnya gelap. Selalu ada kerlip-kerlip harapan yang membuatmu tersenyum dan bersemangat menyambut lagi pagi dengan kesegaran optimisme. Dan saat gelap semakin pekat, justru di sanalah pelan-pelan berganti pagi.”

Pagi adalah simbol kesegaran. Di antara perputaran seharian, pagi adalah saat tersegar dalam durasi hari. Hawa kesegaran untuk memberikan energi seharian. Hawa kesegaran untuk menaklukkan tantangan seharian. Hawa kesegaran untuk berkata pada diri sendiri, “Mari mulai berkarya lagi!”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!