Menghadirkan Cahaya Cordoba di Pojok Nusantara

Penaka panen raya di tengah kelaparan yang membusung lambung, bagi kaum Yahudi dan Kristen di Andalusia, kehadiran Thariq bin Ziyad dan pasukannya sudah dinanti-nanti. Polah Raja Gothic sudah memuakkan kehidupan mereka. Maka, sepenggal waktu kemudian, saat Thariq bin Ziyad dan 12.000 pasukannya yang masyhur dengan strategi bakar kapal demi melangitkan spirit pasukannya itu, berhasil melantakkan kepongahan kezaliman yang sudah meraja.

Sebagai ibukota Andalusia, Cordoba kemudian dijadikan pusat pemerintahan kekhalifahan Islam di bumi Eropa. Andalusia kemudian berangsur menjadi negeri berlimpah cahaya keilmuan, hingga kemudian pada 711 M menjadi saksi cikal bakal sebuah pusat peradaban bernama Universitas Cordoba. Sinergi manis antara pemerintahan yang adil, dengan rakyat yang memiliki keragaman berhasil diguyubkan dan mengejawantah menjadi tali yang kuat untuk kemudian bersama membangun Cordoba lebih anggun lagi.

Pada 786 M, khalifah Abdurrahman I meresmikan masjid terindah nan megah bernama Masjid Jami Cordoba. Seribu tiang besar jua kecil dipancangkan, dengan penerangan 113 buah yang tersebar cermat, agar setiap sudutnya tak hadir gulita dan memudah para abid melaksana aktivitas wajib maupun sunnahnya. Bagaimana tidak, satu penerang tertampung 1000 lampu, dan penerang paling kecil termuat 12 lampu. Paduan warna cantik merah, putih, biru, hijau dengan tambahan hitam indah celak, menghiasi lorong panjang berbentuk lengkungan, masih ditambah ukiran dan hiasan lain yang elok bertebaran. Semuanya tersuguhkan dengan cermat, indah, dan nyaman sebagai tempat beribadah sekaligus pusat keilmuan.

Di situ, jamaah mendapatkan pelayanan yang memanjakan pandangan dan memuaskan akal. Gelaran ilmu seolah banjir bandang. Deras, riuh. Bedanya, hanya pada ketertataannya. Imbasnya, pola hidup kemasyarakatan pun berubah. Tercatat toko-toko untuk mendukung keperluan masyarakat yang hilir-mudik berburu ilmu sebanyak 80.455. Pemandian umum sebagai sarana bebersih tersedia 900 bilik, dan masjid-masjid lain selain Masjid Jami Cordoba sendiri, terhitung 3.837, sehingga membuat Andalusia menjadi kian terasa nuansa barakahnya.

Sepenggal waktu kemudian, yakni pada 912 M, Masjid Cordoba kemudian diubah oleh Abdurrahman III, yakni Abdurrahman An-Nashir, menjadi Universitas Cordoba, demi kemajuan peradaban Islam itu sendiri. Berbagai bidang studi mulai ditata lebih rapi dan diajarkan dengan penuh hikmat, seperti akidah, bahasa, Al-Qur’an, juga beragam bidang khusus seperti geografi, matematika, fisika, kimia, sejarah, kedokteran, hukum, jua astronomi.

Abdurrahman III, sebagai pemimpin yang juga gemar akan ilmu, secara rutin dan khusus memanggil lulusan Al-Azhar dari Mesir dan Al-Qarawiyyin dari Baghdad, untuk berbagi ilmu di Universitas Cordoba. Abdurrahman III paham benar, bahwa ilmu adalah hal utama bila ingin mengangkat martabat negerinya. Bila keilmuan dikemas benar, kondisi ekonomi, politik, militer, sosial, akan menderajat naik.

Baitul Hikmah di Baghdad, sebagai perpustakaan, pusat penelitian, sekaligus tempat pertemuan para intelektual, menjadi perhatian khusus Abdurrahman III. Dana sangat besar digelontorkan untuk memboyong buku terjemahan dari Baitul Hikmah, sebagai bagian dari upaya menjadikan Cordoba pusat ilmu. Dosen-dosen tamu pun rutin didatangkan. Imbasnya, lulusan Universitas Cordoba menjadi rujukan penting dan berpengaruh, dan Ibnu Abdill Barr Al-Qurthubi serta Ibnu Hazm Al-Andalusi menjadi pionir yang mengkader para cendekiawan. Pemandangan ilmiah seperti diskusi, debat berasas ilmu, menjadi begitu indah dipandang. Secara khusus, Abdurrahman III juga meminta para ulama dan cendekiawan agar mau menerjemahkan buku-buku penting dari Baghdad, serta mendorong mereka untuk menulis karya sendiri. Bahkan, ketika beberapa masa kemudian, di masa Al-Hakam II, yakni pada 976 M, beliau malah menyiapkan 10 ribu dinar hanya dikhususkan untuk mendatangkan edisi pertama buku astronomi Al-Fargani.

Pemborongan buku secara masif membuat perpustakaan Universitas Cordoba mulai menyaingi Baitul Hikmah di Baghdad. 600.000 buku dengan 44 katalog menjadi nyawa di perpustakaan itu. Dengan pengelolaan yang rinci, cermat, rapi dan tersistematis, karena perpustakaan dipimpin langsung oleh ulama senior. Pada masa itu, ulama mendapatkan tempat yang terhormat, dan mendapatkan fasilitas yang bisa makin membuatnya leluasa untuk menghidupkan gairah keilmuan di masyarakat. Walhasil, dengan segala upaya-upaya pemerintahan kala itu, Universitas Cordoba melahirkan banyak tokoh yang karyanya masih kita pakai hingga sekarang, seperti Imam Al-Qurthubi yang masyhur sebagai mufassir, Ibnu Rusyd yang terkenal sebagai filosof, Ibn Abdil Barr yang kita kenang sebagai ahli hadits, Az-Zahrawi yang sejarah menintakannya sebagai ahli bedah, atau Al-Ghalafi yang berpengaruh dalam dunia medis dengan statusnya sebagai ahli mata, dan banyak lagi.

Melihat fakta ini, hal sederhana patut untuk kita tanyakan pada diri: adakah kita mau saling bersinergi untuk menghadirkan yang semisal Universitas Cordoba di salah satu pojok nusantara ini? Merawatnya sebagai markas tumbuhnya insan-insan yang memiliki kapasitas keilmuan mumpuni dan ramah inovasi, sehingga nyala nyawa peradaban Islam hadir menjadi solusi atas maraknya kepekatan yang akhir-akhir ini seolah mendominasi. Dari ilmu kita memulai, dengan ilmu kita mengubah dan mewariskan negeri ini dengan kebaikan.[]

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment